me with Ibnu

Hari demi hari pencarian perusahaan pengguna Python berjalan. BiznetGio pun muncul. Bahkan saya mendengarnya langsung dari penggiat perangkat lunak bebas di Indonesia. Tentu saya berdecak kagum. Tak dapat membayangkan benarkah mimpi itu bukan ilusi semata. Mimpi kelak bekerja di perusahaan dengan mindset dan lingkungan FOSS. Bagi saya, hal seperti itu di Indonesia hanya sebuah mimpi. Bekerja di perusahaan yang memiliki mindset FOSS dan menggunakan lisensi bebas bahkan untuk core applicationnya. Tak percaya, saya mencoba konfirmasi ulang. Benar saja, saya mendapatkan pranala menuju beberapa aplikasinya di salah satu source code hosting dengan akses public dan berlisensi MIT. Kaget, kagum dan penasaran bercampur aduk. Bagaimana mungkin ada perusahaan di sekitar saya yang memiliki mindset FOSS seperti ini. Ingin berteriak syukur tetapi diri sedang di perpustakaan kampus.

Segera saya mencari Fadlun Akbar. Kakak tingkat yang sangat aktif di ekosistem FOSS. Kami berdiskusi, saya meminta nasehat tentang pilihan tempat yang akan saya ambil. Tentu saya tau pasti bahwa startup besar pada daftar kandidat tempat magang tersebut memberikan kompensasi dalam jumlah yang besar. Tetapi hati tetap tertuju pada tempat dengan mindset dan ekosistem FOSS yang tinggi. Ditambah bonus tak ternilai seorang mentor yang saya tau (bukan kenal, karena beliau tidak tau saya) sejak lama merupakan sosok penting dalam perkembangan maupun gerakan perangkat lunak bebas di Indonesia. Setidaknya, kala itu saya berpikir. Bagaimana kerennya jika saya bisa belajar bersama beliau, melihat bagaimana beliau bekerja, dan yang terpenting, hasil pekerjaan saya akan digunakan banyak orang dengan lisensi bebas. Sungguh aroma syurgawi.

Saya pun diminta untuk mengirim cv dan pranala akun github (bukan LinkedIn!). Tak lepas terselip di dalamnya alamat situs portofolio saya. Berbekal kontribusi pada beberapa proyek perangkat lunak bebas. Baik dalam bentuk ide/feature request, bug maupun code. Saya sedikit percaya diri untuk diterima. Sembilan hari menunggu. Surel balasan sampai dengan penjelasan bahwa saya diterima. Tinggal mengurus surat-surat administratifnya saja. Alhamdulillah.

Tiga bulan berlalu. Saya pun bertolak ke jakarta untuk pertama kali. Bersyukur mendapatkan kos yang cukup dekat dengan kantor BiznetGio. Dengan bantuan Ahmad Hakeal. Sahabat lama di Gontor dulu.

Hari pertama diawali dengan briefing bersama HRD BiznetGio kala itu, Mbak Tiara. Saya menerima akun untuk mengakses MS teams (yang tidak pernah saya gunakan selama magang), dijelaskan jam kerja dan lingkungan kantor. Tentu tak lepas dari adanya pantry dan minuman yang dapat diambil setiap harinya. Tak lama kemudian, saya diajak berkeliling kantor seraya berkenalan dengan beberapa software engineer lain.

Siang itu kali pertama saya bertemu pak Ibnu secara langsung. Orang yang sudah saya tau sejak dulu. Andai saya manusia yang berdiri di kejauhan. Saya pun bangga dengan kemauan seorang azzamsa muda yang menghubungi secara langsung orang-orang yang menginspirasinya. Tak disangka, sungguh tak disangka orang yang membuatnya amazed tiga tahun sebelumnya, kini menjadi mentornya. Berkerja dan berkolaborasi secara langsung. Chat pendek tersebut benar-benar menjadi artefak tak ternilai. Saksi bisu perjuangan awal belajar pemrograman. “Semoga saya bisa bermanfaat seperti mas dalam bidang Computer Science”

first chat with Ibnu

Kantin midplaza menjadi tempat awal kami bercengkrama. Berdiskusi segala hal yang akan dilakukan selama dua bulan ke depan. Tentu didalamnya kami diskusi teknologi terkini di dunia FOSS. Dengan tambahan diskusi filosofi serta tokoh-tokoh FOSS yang menjadi bumbu di siang itu. Sungguh saya merasa lebur ketika bercengkrama dengan pak Ibnu. Layaknya teman yang sudah lama kenal. Mungkin karena kami berdua cinta akan apa yang disebut ‘kontribusi’.

Pengalaman sehari-hari yang saya alami tentu tidak cukup untuk diceritakan semua di sini. Setiap hari saya berproses. Diskusi, belajar, berbagi dan tentu tak lepas dari bercanda. Saya tipikal makhluk yang tidak terlalu ekspresif maupun suka bercanda. Tetapi tim pak ibnu yang beranggotakan empat orang termasuk saya dan pak ibnu. Tidak pernah lepas dari canda. Tentu saya harus melebur dan mencari sticker untuk saya gunakan pertama kali di Telegram. pak Ibnu sangat kental dengan humor khasnya. Mungkin Richard Feynman benar. Have a sense of humor.

Entah begitu tingginya antusias saya dalam tim ini. Hingga hari terakhir magang pun, seringkali saya mengambil screenshot pada telegram sebelum badge counter chat-chat itu hilang karena dibuka. Tak sabar ingin membaca topik apa yang sedang dibicarakan.

Banyak hal yang saya pelajari dari sosok pak Ibnu. Dengan tingkat keilmuan sedalam itu. Saya belum pernah melihat ia mencemooh hasil kerja kami. Ucapan yang tak pernah lepas darinya: “nice, nice“. Saya tau, dengan kaliber setingkat itu, tentu dia dapat melakukannya lebih baik dari pada kami. Tetapi tidak pernah keluar dari lisannya cemoohan. Ini hal yang paling berkesan bagi saya. Ia membina kami layaknya keluarga. Orang yang tak kenal kami, tentu tak akan pernah tau mana atasannya. Ia membaur bersama kami. Tak segan anak buahnya memanggilnya ‘om’. Termasuk saya. Sir Ibnu, you rock!.

Ciri khas Ibnu leadership sepertinya tidak berhenti disini. Tak jarang saya melihat pak Ibnu berdiskusi dan bercanda bersama atasannya layaknya teman akrab. Saya bersyukur bisa berada di lingkungan ini. Mungkin rasa keakraban itu memang tak hanya ada pada tim kami. Saya tak tau apa yang dirasakan teman lainnya. Tetapi selama dua bulan. Tak pernah saya merasa ada beban.

Munkin saja, pak Ibnu itu seorang dukun. Bisa jadi kami dipelet olehnya. Grup telegram itu tak pernah mengenal jam dan hari, sabtu ataupun minggu, midnight ataupun midday. Grup itu akan terus penuh dengan diskusi arsitektur, fitur serta bug yang ada pada project kami. Canda menjadi penyedap yang tidak akan pernah lepas. Syukurlah saya sudah mengunduh telegram sticker. Bisa jadi pak Ibnu memang seorang dukun. Dukun leadership.

Kami tak memiliki stand-up meeting layaknya kebanyakan tempat lain. Kami diberi kebebasan mengerjakan dari tempat mana pun. Terdengar unik memang. Tetapi anehnya, kinerja teman-teman di tim sangat baik. Bahkan diskusi sepertinya sudah menjadi part of our life. Jika bergantinya malam dan siang, tidak menjadi batasan untuk commit. Diskusi yang tak kenal tempat dan waktu. Saya rasa 8 hours sudah tidak menjadi urusan.

Team leader adalah orang yang paling tau dan paling bisa membentuk rules selama pengembangan perangkat lunak. Tidak ada software development methodologies yang bekerja tanpa di kostumisasi karena setiap orang, tempat dan proyek tidak akan pernah sama. Saya rasa pak Ibnu menganut hal ini. “Customized development method”.

Hari-hari terlewati penuh dengan diskusi, berbagi dan belajar bersama. Kami berbagi ide-ide menulis idiomatic code, algoritme yang lebih efisien dan banyak hal lain. Traktiran makan per minggu dari pak Ibnu selalu penuh dengan diskusi ringan tak lepas dari canda. Sungguh hari-hari yang sangat menyenangkan.

Bisa jadi pak Ibnu memang dukun leadership. Tetapi semangat membara itu mungkin tak pernah padam karena proyek itu sesuai dengan idealisme kami. Proyek perangkat lunak bebas. Saya sangat berbahagia di dalam setiap commitnya. Terimakasih BiznetGio. Mimpi itu kini sudah menjadi nyata. Tak lagi ilusi.

Great manager, ability to work remotely plus Libre Software licesed project. what a breeze. Tiga komponen yang membuat decak kagum dan kesyukuran selama magang di BiznetGio.

demand for remote work

Great manager, ability to work remotely, plus Libre Software licesed project. What a breeze.

Ada pertemuan tentu akan ada perpisahan. Minggu terakhir grup telegram sudah bersuasana haru. Kehilangan seorang sahabat yang akan kembali melanjutkan studi setelah magang. Akhir minggu itu seringkali pak Ibnu melantunkan doa dan perpisahan, padahal saya masih tinggal seminggu lagi. Sebelum kami benar-benar berpisah. Kami bersyukur atas perjalanan ini dengan sebuah closing-tasyakuran

closing tasyakuran

Setiap hari di minggu terakhir. Kami menghabiskan waktu bersama hingga malam. Diskusi dan bercanda ria di ‘mabes’. Begitu saya menyebutnya pada pak Ibnu dan teman di tim. Jauh sebelum perpisahan ini. Seringkali saya sampaikan kepada beliau bahwa tempat tidak akan pernah menjadi pembatas. Selama proyek tersebut berlisensi bebas. Tentu saya sangat siap untuk berkontribusi. Selain karena ide yang ingin saya implementasikan. Kontribusi tidak akan pernah lepas selama hayat masih dikandung badan. Stasiun Senen menjadi saksi bisu perpisahan kami yang penuh chat haru di telegram. Ditemani hujan rintik.

Artikel sebelumnya dapat anda baca di sini

This post is not sponsored by Biznet Gio. All views and opinions are my own

Comments

So what do you think ? Leave your comments below.


Keep Reading


Reading Time

~6 min read

Published

Magang BiznetGio

Category

CS, bahasa

Tags

Stay in Touch