Memasuki awal semester enam, saya bersiap-siap mencari tempat untuk magang. Hiruk pikuk kawan-kawan melakukan hal yang sama, meski tak semua. Ricky Irfandi pun saya temui, sahabat yang banyak mengajari dan menemani di awal pendakian belajar pemrograman. Kami berdiskusi ke mana akan magang. Sejauh apa progres belajar bidang yang kami tempuh pun tak lepas dari diskusi. Mengingat kami sekarang sudah terpisah karena keminatan.

Saya merenung kembali apa yang dapat saya kontribusikan sekaligus memilih area of interest yang akan saya dalami kedepannya. Lisp mendominasi hidup saya pada semester itu. Hingga dua tugas akhir mata kuliah saya kerjakan dan presentasikan dengan Lisp. Buku-bukunya tak pernah jauh dari mata. Di setiap tempat dan waktu. Mulai dari menunggu adzan, antrian, menunggu teman hingga do number two. Benar, hampir gila saya dibuatnya.

Sesak nafas dengan Lisp tentu membuat saya ingin menggunakannya sebagai alat untuk berkontribusi dan berkarya. Keputusan untuk magang dengan Lisp di tangan menguat. Sayangnya, pencarian tak membuahkan hasil. Tak ada startup maupun corporate di Indonesia yang menggunakan Common Lisp. Pilihan tertuju pada kerja remote di luar negeri. Setelah bertanya di forum, saya pun mendapat petunjuk lamaran junior software engineer yang dibuka. Diantaranya RavenPack dan Rigetti. Tetapi keduanya sepertinya tidak menerima remote work untuk posisi junior dev. Akhirnya saya mundur dan melebarkan opsi pada Lisp family. Saran yang di dapat yaitu Clojure yang digunakan di go-pay.

Pikiran saya berubah. Lisp sepertinya tidak terlalu dilirik corporate pada umumnya. ‘Keindahannya’ cukup membuat Yahoo dan Reddit mengubah codebase aplikasinya. Hingga akhirnya saya bepikir. “Bahasa alien sudah di tangan. Saatnya saya membuka mata untuk menguasai bahasa manusia”.

Bahasa alien sudah di tangan. Saatnya saya membuka mata untuk menguasai bahasa manusia.”

Java sudah tentu tidak masuk dalam daftar kandidat. There is nothing wrong with java. Tetapi Entahlah sulit sekali hati ini menerimanya (mungkin hal ini akan menjadi tulisan di lain waktu). Kandidat tersisa Python dan Ruby. Menghabiskan waktu untuk meriset mana yang akan saya pilih. Akhirnya, pilihan jatuh pada Python.

Banyak yang menyampaikan bahwa kita tidak usah ambil pusing dalam memilih bahasa pada awal belajar pemrograman. Tetapi bagi saya, saya harus memiliki beberapa alat di tangan yang benar-benar saya dalami hingga akarnya. Bahkan kalau bisa, hingga menjadi core-developernya (apa salahnya bermimpi).

Pemilihan Python tentu tidak berakhir begitu saja. Saya awali dengan kesyukuran. Telah memiliki cinta kasih baru yang harus saya geluti dan dalami. Dilanjutkan dengan mempelajari syntax dasar. Membaca dan mengerjakan latihan buku pemula, mengerjakan soal di online code judge dan terus berlatih. Mencintai perkakas yang kita gunakan saya rasa tidak ada salahnya. Cinta boleh, fanatik jangan.

Language is not a wife, it is not the one that you should hug forever in your life.

Don’t afraid to leave and take the new one, leave does not mean you loose it, you just put it in your toolbox.

The vary weapon (paradigm) you learn, the better knight you become.”

— azzamsa

Tatkala proses pembelajaran dan penguasaan skill Python pemula saya rasa melebihi 50%. Segera saya mencari tempat magang yang banyak menggunakan Python dalam tech stacknya. Python merupakan bahasa yang cukup populer. Daftar pilihan tempat magang tentu sangatlah banyak. Beberapa startup besar bermunculan. Saya terus mencari tempat yang saya rasa cocok.

Artikel selanjutnya dapat anda baca di sini

Comments

So what do you think ? Leave your comments below.


Keep Reading


Published

Magang BiznetGio

Category

CS, bahasa

Tags

Stay in Touch